me_and this uncertain world

me_and this uncertain world
(tulisan ini menelanjangi isi hati saya)

Senin, 04 Februari 2013

Tuhan, maafkan aku mencintai hamba_Mu yang telah Kau pertemukan dengan jodohnya....

aku hanya mengaguminya Tuhan, tidak bisa lebih dari itu. bahkan kalau aku mau lebih dari itu, Kau tidak akan mengijinkannya bukan?
Tuhan, maafkan aku telah mengakhiri hidupku hari kemarin. Kau pasti tahu alasannya, aku lelah Tuhan, menjalani hidup yang seaakan tidak berpihak padaku. Oleh karena itu, aku memilih mengakhiri hidupku kemarin.

Ini bukan kali pertama aku berpikir untuk mati Tuhan. aku sudah mendatangi perlintasan kereta api itu untuk ketiga kalinya. Hari pertama, aku gagal membunuh diriku sendiri ketika aku melihat seorang Ibu melintas menggandeng anak-anaknya di ujung sana. Ibu itu tersenyum lebar melihat polah kedua anak kecilnya. yang wanita bernyanyi keras-keras, dan yang lelaki menggandeng tangan ibunya erat-erat. hari itu aku takut mati, karena aku berpikir bagaimana perasaan ibuku kalau beliau tahu aku tidak lagi bisa bernyanyi untuknya. seperti anak kecil di ujung jalan itu bernyanyi untuk ibunya.

Hari kedua, aku gagal menabrakkan diriku ke kereta listrik karena sayup-sayup di kejauhan aku mendengar suara adzan berkumandang. seketika, aku ingat sepanjang hidupku aku lupa mengingatmu. Dosa-dosa yang belum terhapus, pahala yang belum juga kudapat, lalu, bagaimana aku berani bertemu muka denganmu, Tuhan?

Hari ketiga, hidupku akhirnya berakhir....
Setelah jodoh orang yang kukasihi menghubungi telepon selulerku. dia berkata aku tidak pantas hidup karena aku menginginkan apa yang seharusnya tidak kuinginkan dalam hidup. dia bilang aku pantas mati, karena kesalahanku yang besar hingga tak satupun elemen di dunia ini yang sudi menerimaku. dia juga bilang, lintah-lintah di pematang sawah itu lebih berharga untuk hidup daripada aku, karena kesalahanku mencintai orang yang salah. Dan yang lebih meyakinkanku untuk mati adalah, dia bilang kalau aku benar mencintai hambaMu itu, aku lebih baik lenyap dalam hidupnya selamanya.

Lalu Tuhan, aku memberanikan diri bertemu denganmu dengan kondisi yang memalukan ini.. sekedar ingin minta maaf atas kesalahanku mencintai hamba-Mu yang telah kau pertemukan dia dengan jodonya.

Bandung, 5Febuari 2013

Minggu, 03 Februari 2013

kadang saya tidak bisa mengontrol apa yang ada dalam otak saya. saya terpaku pada satu titik dan tidak bisa menganalisa kemana harus melangkah. ribuan alternatif, ratusan saran, tidak ada satupun yang menguatkanku untuk melajukan hidup ke arah yang lain.

ENTAH setan manalagi yang akan membujukku mengacu pada arah yang salah, atau malaikat mana yang akan menasihatiku untuk kembali ke jalan yang seharusnya. yang pasti, saya nyaman menjalani semuanya.
yang saya tahu, saya merasa tetap mengingat Dia. Dia yang selalu mengingat menjagaku.... hanya itu
Tuhan, jaga aku untuk tetap di jalanmu...

Senin, 03 Desember 2012

MONSTER LADANG JAGUNG

Perkenalkan! Ini monster ladang jagung. Yang mengambil sahabat-sahabatku.
Pertama kali aku mengenal monster ladang jagung, dia tidak punya teman. Lalu aku mengajaknya, mengenalkan dia dengan teman-teman sepermainanku. Awalnya monster ladang jagung tidak serakus itu mengambil semua sahabatku. Awalnya kami sering bermain bersama, aku, sahabat-sahabatku dan monster ladang jagung.

Hingga suatu hari, aku merasa satu-persatu sahabat-sahabatku meninggalkanku. Awalnya aku tidak menyangka kalau mereka meninggalkanku karena monster ladang jagung. Awalnya aku mengira aku yang bersikap kasar pada mereka, hingga mereka tidak mau lagi bersahabat denganku.

Lalu, seekor burung pipit bilang ini pekerjaan monster ladang jagung. Burung pipit itu mengatakan padaku kalau monster ladang jagung mengadu domba aku dan sahabat-sahabatku. Monster ladang jagung bilang aku tidak pantas untuk berteman dengan mereka. Monster ladang jagung itu menghasut sahabat-sahabatku hingga tidak ada satupun sahabat-sahabatku yang mau bermain lagi denganku.

Ketika aku bertanya pada sahabat-sahabatku, mereka membela monster ladang jagung. Katanya monster ladang jagung itu anak yang baik hati. Mereka bilang aku yang terlalu memojokkan monster ladang jagung. Kalau sudah begini, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sahabat-sahabatku tidak ada yang percaya padaku, mereka lebih percaya pada monster ladang jagung.

Kemudian, aku meninggalkan mereka. Aku tidak lagi mau ambil pusing tentang sahabat-sahabatku yang pergi dengan si monster ladang jagung. Aku tidak lagi peduli dengan apa yang menjadikan sahabat-sahabatku itu berubah menjauhiku. Karena aku tahu, suatu hari nanti kebenaran akan terungkap dan monster ladang jagung akan menunjukkan rupa sebenarnya.

Beberapa tahun kemudian, aku berdiri di makam sahabat-sahabatku. Orang tua mereka bilang, monster ladang jagung memangsa mereka satu-persatu. Monster ladang jagung yang jahat itu telah menelan temanku bulat-bulat. Tapi, tidak ada penyesalan dalam hidupku, karena aku telah mengatakan pada sahabat-sahabatku sebelumnya. Perkara mereka percaya padaku atau tidak itu urusan lain.

Bandung 03 Dec 2012 20:37                                                       

AKU TAKUT MATI

AKU TAKUT MATI

Kemarin aku hampir mati. Untungnya tidak jadi. Dokter bilang setelah operasi dua hari lagi hidupku akan bertambah beberapa tahun lagi. Entah benar, entah tidak. Tapi kan aku tidak punya pilihan, jadi ya sudahlah.

Sebenarnya aku takut menghadapi meja operasi dua hari lagi. Tapi aku lebih takut mati. Kemarin, waktu aku hampir mati, kau tahu apa yang terjadi? Seketika kisah-kisah hidupku terpampang dalam benakku seperti film dokumenter yang diputar. Warnanya hitam putih, menceritakan jelas beberapa slide kehidupan yang pernah aku alami. Satu persatu, masa kecilku, masa remaja hingga kejadian baru-baru ini terputar jelas hari kemarin waktu aku hampir mati.

Kau tidak perlu tanya kenapa aku hampir mati kemarin. Yang jelas pengalaman itu paling menakutkan dalam hidupku. Aku hobi olahraga pemacu andrenalin, terjun payung, bungy jumping hingga paralayang. Tapi pengalaman hampir mati kemarin lebih dari itu semua. Seketika aku ingat aku pernah berbuat jahat pada orang-orang terdekatku. Aku sering marah-marah tidak jelas pada sahabat-sahabatku. Aku egois, mau menang sendiri, suka berbuat onar, dan banyak lagi. Aku menghitung orang-orang yang pernah kusakiti, dan hebatnya kesepuluh jari tanganku tidak cukup menjadi alat bantu hitungnya. Terlalu banyak.

Namun, bukan itu alasan aku takut mati. Tapi, aku tidak tahu akan kemana setelahnya. Aku bukan orang yang tahu agama, bahkan bisa dibilang tidak kenal Tuhan. Aku menjalani hariku dengan biasa saja, dalam artian tidak terikat pada satupun norma, baik norma agama maupun norma kehidupan lainnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa hidupku tidak sempurna. Hingga hari sebelum kemarin, aku tidak pernah ambil pusing ketika banyak orang berbicara tentang kematian. Lebih singkatnya aku tidak peduli. Kalau banyak orang pergi berbondong-bondong ke tempat ibadah, aku sibuk menghabiskan waktu dari satu klub malam ke klub malam lainnya. Hingga hari sebelum kemarin, aku berpikir hidupku yang hanya sekali harus kumanfaatkan dengan menikmati setiap detiknya dengan cara yang kusuka. Tidak peduli itu baik atau buruk, selama aku suka akan kulakukan.

Dan untuk pertama kalinya aku merasa hidupku hampa. Penyebabnya, karena aku tidak akan tahu akan kemana setelah mati. Bisa dibilang aku tidak punya tujuan, Petak kuburan mungkin terlalu sempit untukku hingga aku takut menghadapinya. Lebih parahnya lagi, aku tidak mau disana selamanya. Aku tidak mau. Dan tampaknya hingga detik ini aku tidak tahu kemana aku akan pergi setelah mati. Aku tidak mau sendirian di dalam kubur yang sempit itu, pasti gelap tanpa cahaya, pokoknya menakutkan.

Kemarin aku hampir mati, dan sekarang aku berharap operasi yang akan kujalani berhasil dua hari lagi. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku janji deh, kalau aku tidak jadi mati, aku akan belajar mengenal Tuhan setelahnya.

Dua hari kemudian, aku melihat Ibuku menangisiku di ruang tunggu rumah sakit.

“Maaf, kami sudah berusaha semampunya,” kata dokter yang mengoperasiku.

Ibuku menangis, ayahku juga, adikku, dan kakak laki-lakiku.

Jadi ini rasanya mati? Hey! Lalu aku akan kemana setelahnya. Aku kan sudah bilang, aku tidak mau sendirian dalam kubur yang sempit itu.

Dan seketika, aku menyesal, kenapa aku tidak mengenal Tuhan terlebih dahulu sebelum aku mati. Tampaknya tidak akan seburuk ini jika aku menyiapkan diriku untuk mati sebelumnya. Dan ketika buku kehidupanku ditutup aku tidak tahu kemana akan pergi, atau kepada siapa aku akan bergantung setelah ini.

Bandung 04 Dec 09:27
in order to have such a good time with friend, sometimes we have to be more patient. nobody's perfect, either I am..

Sabtu, 01 Desember 2012


Aku tahu diri, aku tidak mau berharap dengan apa yang sejauh ini menjadi mimpi-mimpi terbesarku. Aku menjalani hari-hariku dengan harapan yang tidak jadi nyata.  Aku menjalani hariku dengan biasa saja. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang luar biasa.

Kecuali, hari pertama aku mengenalnya. Iya, benar! Aku tidak pernah menginginkan sesuatu seperti ini. Aku juga tidak pernah mengharapkan sesuatu sedalam ini. Aku mengenalnya pertama kali di panggung festival budaya. Namanya Arjuna. Tapi itu bukan nama sebenarnya. Maksudku, dia Arjuna tokoh pewayangan tanah jawa yang kukenal setahun yang lalu di panggung festival budaya.  Pemerannya? Persetan dengan pemerannya. Aku hanya suka pada Arjuna saja, Arjuna di panggung  festival budaya.

Aku terpesona. Katakanlah aku jatuh cinta. Setiap sabtu malam minggu aku pasti datang ke panggung ini, bertemu Arjuna-ku. Menatapnya dari bangku baris ketiga dari panggung, mengagumi Arjuna-ku dan setiap gerakannya. Dia terlalu indah. Intinya, aku jatuh cinta. Aku menghabiskan malam-malam mingguku selama setahun penuh di bangku ini. 

Menikmati indahnya sensasi cinta yang bukan pertama kali kurasakan.
Aku pernah jatuh cinta di dunia nyata. Bukan berarti Arjuna-ku itu tidak nyata. Hanya saja, kali ini berbeda. Aku jatuh cinta dua kali sebelumnya, dengan orang yang salah. Yang pertama pergi menghempaskan cintaku hanya karena aku tidak cantik. Dengan kata lain, aku ditolak saat kuutarakan isi hatiku. Dia bilang aku tidak pantas untuknya, Dia bilang, dia memimpikan seorang dewi untuk jadi pendampingnya, bukan wanita berkaca mata tebal, kutu buku, kuper, pendek jelek. Aku masih ingat rasa sakitnya ketika dia berkata seperti itu. Aku masih bisa merasakan tiap detail sakit di hatiku saat dia bilang begitu.

Yang kedua kali, aku ditinggalkan kekasihku karena dia pergi dengan wanita yang sudah lama menjadi mimpinya. Dan sialnya wanita itu datang lagi di kala kekasihku itu tengah menjalin hubungan denganku. Dia meminta maaf berkali-kali. Yang terakhir diiringi air mata di pelupuknya. Aku tidak tahu itu air mata apa, air mata penyesalan karena telah membohongiku, berpura-pura mencintaiku, dan mengkhianatiku atau air mata bahagia karena akhirnya dia terlepas dariku wanita berkaca mata tebal, kutu buku, kuper, pendek jelek dan akhirnya mendapatkan wanita impiannya.

Aku tidak tahu mana yang lebih sakit. Kejujuran karena dari awal cintaku ditolak dihempaskan, atau kebohongan panjang yang akhirnya sampai pada kebenaran yang menyakitkan. Aku tidak melihat bedanya, lebih parahnya aku tidak ingat mana yang lebih menyakitkan. Rasanya sama. Seperti tiba-tiba ada pisau super tajam yang menusuk dadamu, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan kau tidak kuasa untuk berontak, hatimu koyak tidak ada obatnya. Yang bisa dilakukan hanya menahan sakitnya sampai waktu menyembuhkannya.

Dan kali ini, aku memutuskan untuk jatuh cinta pada Arjuna-ku. Setidaknya, ketika aku memberikan cintaku pada sesuatu yang tidak nyata, sakitnya tidak akan terasa. Itu sih hanya asumsiku. Begini, bila kau jatuh cinta pada sesuatu yang abstrak yang tidak jelas eksistensinya di dunia nyata, maka ketika cintamu tidak terbalas sakitnya juga tidak akan nyata, tidak akan jelas eksistensinya.

Arjuna-ku menari dengan gemulai di panggung festival budaya, memainkan jemari lentiknya seiringan dengan dentingan gamelan. Sesekali dia menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri mengikuti arah lampu sorot yang gemerlap.  Dan aku jatuh cinta padanya.

Bandung 01 Dec 2012 20:55

Jumat, 30 November 2012

I hate me and myself, Thus I killed them both

I hate me and myself, Thus I killed both of them.
tempat yang sama, kota yang sama, suasana yang sama.
tapi hanya hari yang terlihat berbeda.

ya benar,  tempat yang sama, kota yang sama, suasana yang sama dengan saat ini.
hari kemarin, aku terdiam, sendiri bertanya pada diriku, kenapa aku berbeda dan mereka tidak.
lalu kemudian, hari ini aku kembali sendiri bertanya pada diriku, kenapa mereka terlihat sama dan aku tidak.

dua pertanyaan itu, hanya dua.
lalu kemudian aku menatap cermin di ujung ruang. ada seorang gadis menatapku dengan pandangannya yang sayu tanpa suara.
sedetik... dua detik... tiga detik... pada detik kesepuluh dia menyapaku.

"kau siapa?" tanyanya.
"aku?" aku bertanya kembali padanya.
"kau melihat seorang lain selain dirimu?"
"iya, tadi aku melihat orang lain dalam diriku. tatapannya dingin, seakan-akan dia ingin menerkamku, dia bilang dia bagian dari diriku yang tidak mendapatkan ruang untuk keluar. jadi aku bertanya padamu, siapa yang kau tanya 'aku' atau 'dia'?"
"keduanya."
"kau tidak bisa memilih keduanya, pilihlah salah satu gadis serakah"
"baiklah"
gadis di cermin itu menatap mataku tajam.

aku hanya seorang gadis biasa, itu yang kutahu. tapi aku tidak melihat satupun kebaikan dalam diriku. tidak satupun. aku menelantarkan teman yang selalu mengingatku. aku mengacuhkan orang yang mengasihiku, aku membuat mereka seolah-olah tidak ada. yang ada hanya aku. aku sendiri.

lalu orang yang satu lagi, yang tadi kukatakan akan menerkamku.. dia adalah gadis biasa, itu yang kutahu. tapi aku tidak melihat satupun kejelekan dalam dirinya. dia memperlakukan teman-temannya dengan baik, dia memperhatikan orang yang mengasihinya, dan dia memperlakukan mereka dengan istimewa. yang ada bukan hanya dia dan dirinya sendiri.

"lantas kenapa kau tidak memberikannya ruang?" tanya gadis dalam cermin.

kadang, aku tidak bisa menggunakan akal sehatku, kadang aku cemburu pada hal-hal yang tidak mendasar, kadang aku iri pada keberhasilan seseorang, kadang penyakit hati menghinggapiku hingga aku lupa bahwa diriku ini memuakkan dan tidak seharusnya begitu.

"lalu, kenapa tak kau biarkan gadis bertatapan dingin itu menerkammu?" tanya gadis dalam cermin lagi.

tiba-tiba aku merasa apa yang dikatakannya benar.
maka aku mengambil sebuah belati. bukan belati biasa. itu adalah belati yang bisa membunuh "orang" lain dalam diri manusia. aku meletakannya di tangan kananku, tepat di denyut nadiku. lalu yang terjadi kemudian aku menggoresnya dengan belati tadi.

I hate me and myself, thus I killed them both
Bandung- 1Dec2012 00:55 AM