me_and this uncertain world
(tulisan ini menelanjangi isi hati saya)
Minggu, 06 Maret 2011
Rabu, 02 Maret 2011
Busway
mmmm.... ini nih yang ditunggu-tunggu...
mengingat banyak teman dari daerah yang bingung bagaimana keliling Jakarta??
naik busway ajaaaah...
cukup bayar Rp. 3500 perak buat keliling Jakarta..
tips-nya jangan turun di shelter terakhir, biar bisa balik lagi dan keliling jakarta... hehehehehheeee...
nih peta-nya buat yang belum punyaa :
link download
klik di sini
berikut adalah objek wisata yang bisa diliat dari wisata keliling Jakarta dengan 3500 perak!
1. Monas>>
bisa ditengok dari koridor BlokM-Kota...... terus ada museum nasional juga di sebrangnya...2. Bunderan HI
3. Kebon binatang Ragunan
5. Dunia Fantasi
Selamat jalan-jalan ya.... dijamin gak nyasar! makanya download donk peta buswaynya... link-nya di atas ya... have fun... :)
Selasa, 01 Maret 2011
Oh iya.. mau promote blog jurnal rekayasa teknik sipil Universitas Jember...
ini linknya
http://jurnalrekayasa.blogspot.com
ini linknya
http://jurnalrekayasa.blogspot.com
Kamis, 24 Februari 2011
Selasa, 22 Februari 2011
Pagi ini, ada acara TV dahsyat di kantoor... wiiiiw.. semua orang disibukkan, parkir dipindah ke belakang.. mobil gak boleh masuk... rameeee sekali.......
ada kru yg ganteeeng "tetep".... hahahhhahaha... cuci mata harus tetap berjalan.
dan kemudian ada bintang tamu Romy Rafael, itu lho "tukang" hipnotis,, ya ampuuun... lebih ganteng aslinya ternyata!!
teruuus,, deni cagur.... lebih ganteng lagi dari di tiphi!!!!! _karena dari dulu suka deni cagur gara2 dia ikut supermama di indosiar.
teruuuussss,, ada ussy sulistiawati.... cantiiiiik :)
ini foto2nya.......
Senin, 14 Februari 2011
"Kenapa aku belum juga mati?", pertanyaan yang sama setiap malam.
Pertanyaan itu terlontar begitu saja, seperti malam-malam sebelumnya aku bertemu Arjuna. Ya! Namanya Arjuna. Kami belum lama kenal. Kira-kira dua minggu sebelum hari ini. Nanti saja aku ceritakan bagaimana kami bertemu. Sekarang, aku hanya ingin menikmati waktuku bersama Arjuna, itu saja.
"Jadi, ibu gemuk itu menggedor pintu kamar mandi tempat kamu ingin gantung diri?", tanya Arjuna.
Aku mengangguk setengah sebal.
Arjuna terkekeh. "Itu artinya kau sedang sial" kemudian Arjuna terkekeh lagi.
"Kalau saja ibu itu tidak datang, mungkin sekarang aku sudah benar-benar mati. Mayatku akan ditemukan esok hari, bibirku membiru, tubuhku tergantung di langit-langit kamar mandi restoran konyol itu, dan yang paling mengenaskan, Ibuku pasti menangis kencang sekali di pemakamanku."
Aku bergidik mendengar ucapanku sendiri.
Aku benar-benar ingin mati. Setelah banyak sekali kejadian dalam hidup, rasanya mati bukan pilihan yang sulit.
"Sampai kapan kau akan begini?", tanya Arjuna.
"Begini bagaimana maksudmu?", aku balik bertanya.
"Percobaan bunuh dirimu yang konyol itu."
"Entah"
Aku menjawab sekenanya. Memandang ke sudut langit-langit ruangan yang dihiasi sarang laba-laba. Laba-labanya sudah lama pergi, dan aku malas membersihkan sarangnya. Rumah susun kecil dengan satu kamar mandi dan dapur yang berantakan. Hingga aku merasa ajaib masih bisa bertahan hidup di rumah susun yang pengap ini. Omong-omong soal mati karena pengap, mungkin akan kucoba nanti.
"Kau belum tidur?", tanya Arjuna.
Aku menggeleng pelan, "belum ingin"
"Kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?", tanya Arjuna lagi.
Kali ini aku memandang Arjuna.
"Aku memikirkan jalan mana yang akan ku pilih berikutnya.", jawabku sekenanya.
"Kau memang aneh!", tandas Arjuna.
"Tetap tidak seaneh kamu".
Aku mengakhiri pembicaraan kami, kemudian naik ke atas tempat tidur di ujung ruangan. Aku menepuk bantalku tiga kali. Kemudian mengucap 'selamat malam' pada Arjuna, dan detik berikutnya dia sudah tidak ada....
Pertanyaan itu terlontar begitu saja, seperti malam-malam sebelumnya aku bertemu Arjuna. Ya! Namanya Arjuna. Kami belum lama kenal. Kira-kira dua minggu sebelum hari ini. Nanti saja aku ceritakan bagaimana kami bertemu. Sekarang, aku hanya ingin menikmati waktuku bersama Arjuna, itu saja.
"Jadi, ibu gemuk itu menggedor pintu kamar mandi tempat kamu ingin gantung diri?", tanya Arjuna.
Aku mengangguk setengah sebal.
Arjuna terkekeh. "Itu artinya kau sedang sial" kemudian Arjuna terkekeh lagi.
"Kalau saja ibu itu tidak datang, mungkin sekarang aku sudah benar-benar mati. Mayatku akan ditemukan esok hari, bibirku membiru, tubuhku tergantung di langit-langit kamar mandi restoran konyol itu, dan yang paling mengenaskan, Ibuku pasti menangis kencang sekali di pemakamanku."
Aku bergidik mendengar ucapanku sendiri.
Aku benar-benar ingin mati. Setelah banyak sekali kejadian dalam hidup, rasanya mati bukan pilihan yang sulit.
"Sampai kapan kau akan begini?", tanya Arjuna.
"Begini bagaimana maksudmu?", aku balik bertanya.
"Percobaan bunuh dirimu yang konyol itu."
"Entah"
Aku menjawab sekenanya. Memandang ke sudut langit-langit ruangan yang dihiasi sarang laba-laba. Laba-labanya sudah lama pergi, dan aku malas membersihkan sarangnya. Rumah susun kecil dengan satu kamar mandi dan dapur yang berantakan. Hingga aku merasa ajaib masih bisa bertahan hidup di rumah susun yang pengap ini. Omong-omong soal mati karena pengap, mungkin akan kucoba nanti.
"Kau belum tidur?", tanya Arjuna.
Aku menggeleng pelan, "belum ingin"
"Kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?", tanya Arjuna lagi.
Kali ini aku memandang Arjuna.
"Aku memikirkan jalan mana yang akan ku pilih berikutnya.", jawabku sekenanya.
"Kau memang aneh!", tandas Arjuna.
"Tetap tidak seaneh kamu".
Aku mengakhiri pembicaraan kami, kemudian naik ke atas tempat tidur di ujung ruangan. Aku menepuk bantalku tiga kali. Kemudian mengucap 'selamat malam' pada Arjuna, dan detik berikutnya dia sudah tidak ada....
Minggu, 13 Februari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)